annyoung haseyo !!! ^^

ANNYOUNG HASEYO !!! ^^
Tampilkan postingan dengan label fan fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fan fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Februari 2011

ff SHINee part 14

Aku dan eunhyuk tiba di kamar appa. Di dalam terdapat orang tua eunhyuk dan orang tuaku juga.
“anyoung haseyo !” ucapku dan eunhyuk sambil membungkuk di hadapan orangtua kami. Aku duduk di kursi kosong sebelah oemma dan eunhyuk duduk di kursi kosong di sebelah oemmanya.
“waah taerii, sekarang kau sudah tumbuh menjadi yeoja yang cantik ya” ucap oemma eunhyuk.
“kamsahamnida~” ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku.
“ya sudah langsung saja ya, karena waktu yang sedikit dan appa masih punya tamu yang menunggu di luar. Eunhyuk… taerii… “ appa berhenti. Oemma memegang pundakku pelan lalu tersenyum miris kepadaku. Aku mulai merasakan atmosfer aneh melihat tingkah laku orangtuaku dan orangtua eunhyuk. Tiba-tiba saja, tanpa kuketahui sama sekali sebabnya, jantungku berdegup sangat cepat. Aku mengepalkan telapak tanganku yang mulai terasa mendingin.
“ne’.. ada apa appa ?” tanyaku lirih.
“minggu depan . . .” appa berhenti melanjutkan kalimatnya karena pandangan oemma kearah appa. Pandangan yang sama sekali tak dapat aku artikan.
“kami telah menjodohkan kalian dan pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu depan !” kali ini appanya eunhyuk yang berbicara tegas. Aku merasakan seluruh tubuhku mendingin seketika. Nafasku terasa sangat sesak dan kepalaku terasa sangat sakit. Entah kenapa bulu kudukku tiba-tiba berdiri.
“bb…bbb….bbwae…bbbwaeyo ?” ucapku lemah sehingga sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Air mataku mulai membendung. Aku menghadap oemma yang menunduk karena menangis. Karena tidak dapat jawaban dari oemma, aku menghadap eunhyuk yang tatapannya terlihat sangat kosong karena terkejut.
“ttt.. tapi appa… aku tidak bisa !!” kataku akhirnya yang berhasil mengumpulkan tenagaku untuk mengeluarkan suaraku walaupun terdengar gemetar.
“maaf taerii, kau dan eunhyuk tidak bisa menolak. Semuanya sudah kami urus untuk minggu depan” ucap oemmanya eunhyuk.
“tapi oemma . . .” eunhyuk terlihat membela diri tapi appa memotong perkataannya.
“pokoknya tidak ada tapi-tapian. Pernikahan tetap akan dilaksanakan minggu depan. Titik !!” ucap appa tegas lalu melangkah keluar kamar yang diikuti oleh appanya eunhyuk. Oemma yang masih menangis di tuntun keluar oleh oemmanya eunhyuk. Sedangkan aku dan eunhyuk, masih tediam membatu di tempat kami masing-masing.
“eunhyukie, apa kau setuju dengan pernikahan ini ?”ucapku sambil mengelap air mataku dengan punggung tanganku.
“ya kita harus menuruti kemauan mereka. Aku akan berusaha agar bisa jatuh cinta lagi padamu” ucapnya tanpa menatapku.
“mworagoyo ?”
“memang akan sulit untukmu melupakan taemin, tapi aku akan membantumu melupakannya. Dan kau tenang saja, aku akan membantumu untuk menjelaskan semua ini pada taemin” ucapnya terdengar pasti.
“ini tidak akan menjadi semudah yang kau pikirkan !!” ucapku lalu berdiri untuk keluar. Tapi baru beberapa langkah, eunhyuk sudah menarik tanganku sehingga menahan langkahku.
“APA ?! KAU PIKIR AKU AKAN MENERIMA PERNIKAHAN INI DENGAN SEMUDAH ITU HAH ?!?” teriakku sambil menghempaskan tangan eunhyuk keras lalu berjalan cepat menuju pintu untuk keluar. Aku memegang kepalaku yang mulai terasa sakit lagi.
“aku harus menemui taemin sekarang juga !” batinku sambil terus berjalan dengan gontai masih dengan memegang kepalaku yang makin terasa sakit.

EUNHYUK’S POV
Sebenarnya aku sudah mengetahui tentang hal ini sejak beberapa hari yang lalu. Hari itu appanya taerii mengunjungi rumahku saat aku dan keluargaku masih di seoul. Lalu tidak sengaja, aku mendengar ucapan mereka untuk menjodohkanku dengan taerii. Jujur saja, aku sangat kaget mendengar tentang hal itu. Tapi itu tidak terlalu sulit untukku karena aku sudah putus dengan pacarku 5 bulan lalu. Tapi aku tahu itu akan sulit untuk taerii yang aku dengar dari onew hyung jika dia sudah setahun lebih belakangan ini menjalin hubungan dengan taemin. Walaupun aku belum tahu taemin. Tapi aku juga tahu, bahwa aku tahu jika aku tidak akan bisa membantah perintah orang tua kami ini.
Jadi yang aku lakukan semua tadi itu hanya acting ! ya acting untuk meyakinkan bahwa aku baru saja tahu tentang hal ini tadi. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bersedia dengan mudah menerima perjodohan ini. Dulu waktu kami kecil, aku memang suka padanya. Aku juga sering menyatakan cintaku padanya tapi aku tidak tahu apa arti cinta waktu itu. Tapi aku merasa sangat bersalah pada taerii karena dia pasti akan sangat sulit untuk melepas kekasih yang paling disayanginya, lee taemin.

TAERII’S POV
Aku berjalan pelan mengelilingi rumahku yang memang masih sangat ramai untuk menemukan dimana taemin. Aku terus berjalan sambil mengeraskan rahangku dan memukul-mukul kepalaku pelan untuk menghilangkan rasa sakit dari kepalaku. Pandanganku menjadi agak kabur. Aku berhenti di depan pintu dan menyender di bingkainya sambil mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku mengedarkan pandanganku mengelilingi halaman rumahku yang dipenuhi banyak orang.
“ah itu dia !” gumamku melihat taemin sedang berkumpul bersama minho dan jonghyun oppa sekitar 7 meter di depanku. Baru selangkah aku berjalan, lagi-lagi aku merasakan sesuatu berjalan menuju tengorokanku dan berusaha untuk menerobos keluar dari mulutku. Aku kembali melihat kearah taemin berada dan mendapati minho sedang menatapku. Aku berlari kembali ke dalam rumahku dan langsung naik ke kamarku lalu menguncinya. Aku berjalan gontai ke dalam kamar mandi yang berada di kamarku lalu langsung memuntahkan semua isi perutku dalam closet. Aku meraba dinding kamarku dan berjalan pelan menuju kasurku.
“aigoo.. kenapa ini datang di waktu yang tidak tepat ? baiklah besok saja aku katakan tentang hal ini pada taemin” ucapku dalam hati sambil berbaring di atas kasurku.
------------------
“kenapa appa tega melakukan perjodohan ini ? taerii tidak mungkin begitu mudah untuk melupakan taemin apalagi minggu depan dia sudah menikah dengan eunhyuk !!” aku terbangun mendengar suara ribut dari ruang tv rumahku. Aku mengintip dari atas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
“yaaa lee jinki !!! sejak kapan kau berani melawan appa hah ?” ucap appa yang suaranya tidak kalah keras dari onew oppa. Aku dapat mendengar suara tangisan oemma yang sedang duduk di sofa. Jika appa dan onew oppa sudah bertengkar, memang tidak ada yang bisa melerai keduanya.
“sejak appa memaksa adik kesayanganku untuk melepaskan miliknya yang paling berharga ! apa appa tahu ? taeminlah yang selama ini memberikan kekuatan kepada taerii untuk tetap hidup !”
“taemin ? oh lelaki miskin itu ? apa dia selama ini tahu bahwa taerii mengidap penyakit itu ? TIDAK !! jadi jangan berani kau bilang bahwa selama ini namja itu yang terus memberikan taerii semangat untuk hidup. Dia bertahan hidup karena ada uang ! uang yang terus membiayainya untuk menjalani pengobatan itu !!!!”
DEG !
Aku kaget mendengar semua perkataan appa barusan. Aku melangkah menuju tangga untuk turun kebawah dengan lemas sambil memegang pegangan tangga kencang. Onew oppa tidak membalas perkataan appa lagi. Tapi dapat aku lihat bahwa wajahnya sudah benar-benar marah sekarang. Aku berdiri sekitar 2 meter di belakang onew oppa. Appa menyadari keberadaanku, tetapi onew oppa tidak.
“ok. Tapi kenapa appa tidak menjodohkan aku seperti appa menjodohkan taerii dengan eunhyuk ?” aku menatap wajah appa dingin yang masih memandangku dengan tatapan kosong.
“omo ! sayang kau pasti muntah lagi ya ?” ucap oemma panic lalu memelukku yang masih tak bereaksi. Onew oppa baru menyadari keberadaanku lalu kaget melihat keadaanku yang mungkin terlihat sangat berantakan. Aku ingin sekali menangis tapi tidak bisa. Mungkin rasa marahku jauh lebih besar dibandingkan rasa sedihku.
“jadi appa menjodohkanku dengan eunhyuk hanya agar mempertahankanku untuk tetap hidup ? tapi sepertinya aku lebih senang jika terus bisa bersama taemin walaupun aku sakit-sakitan. Dia akan tetap bersedia menerimaku apa adanya walaupun setahun yang lalu dokter telah memvonisku untuk mati tahun ini !” ucapku lirih tapi terdengar sangat jelas.
“dongsaeng-ah kau jangan bicara seperti itu. Kau memang pasti akan mati tapi tidak untuk tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi ataupun tahun-tahun seterusnya” ucap onew oppa lembut memegang kedua pipiku sambil menatap kedua mataku. Matanya terlihat berair. Oemma masih terus menangis sambil memelukku dari samping.
“appa tidak peduli ! pokoknya kau tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Jangan membawanya untuk menginjak rumah ini lagi kecuali aku yang menyuruhnya kesini !!! ARRASEO ?” ucap apa keras lalu berjalan kedalam kamarnya.
--------------------------------
Siang harinya aku sendirian di rumah. Appa pergi ke bandung untuk menemui rekan bisnisnya, oemma pergi ke rumah eunhyuk sedangkan onew oppa pergi ke rumah tunangannya. Aku melihat keadaan sekitar rumahku untuk memastikan aku benar-benar sendiri di rumah. Aku memencet keypad handphoneku cepat untuk mencari nomor handphone taemin.
“yoboseyo ?”
“yoboseyo jagiya~ bisakah kau datang ke rumahku sekarang ?” ucapku cepat.
“oh apa yang terjadi ? kenapa kau terdengar begitu terburu-buru ?” tanyanya dari seberang sana.
“aniyo~ aku sendirian di rumah jadi aku memintamu untuk menemaniku. Mau kan ?”
“oh arra. Ok aku akan tiba disana setengah jam lagi”
“ok sampai ketemu” ucapku mengakhiri pembicaraan kami di telepon. Aku sengaja mengajak taemin main karena aku kira ini waktu yang tepat untukku menceritakan tentang perjodohan itu. Mumpung appa sedang pergi jadi aku juga bisa leluasa mengajaknya kesini. Setengah jam kemudian bell rumahku bunyi dan aku kira itu taemin. Aku langsung membukakan pintu rumahku. Aku merasa tubuhku semakin melemas dan kakiku jadi tidak berfungsi dengan baik. Aku makin tidak bisa menjaga keseimbangan badanku sendiri. Dan mungkin taemin juga akan bingung melihatku memakai kacamata hari ini. Sama seperti kakiku yang semakin melemah, mataku juga makin tidak berfungsi sempurna bahkan dokter bilang aku hampir mengalami kebutaan.
“anyoung ! loh kok tumben kau pakai kacamata ?” tanyanya masih di depan pintu. Wajahnya terlihat bingung melihat penampilanku yang mungkin agak aneh. Aku hanya memakai kaos berleher lebar dan hot pants favoritku. Aku hanya tersenyum dan langsung menariknya masuk ke dalam rumahku.
“kkaja ! aku memintamu kesini untuk mengajariku bermain piano” ucapku masih menarik tangannya menuju ruang piano.
“uhmm bukannya kau sudah bisa kan jagi~ ?”
“eobso ! aku hanya bisa memainkan 2 lagu. Kau mau mengajariku memainkan lagu utada hikaru yang first love kan ?”
“oke jagiya~ !!!” ucapnya manja lalu merangkul pundakku.
Satu jam berlalu. Jari-jari tanganku mulai terasa sangat pegal setelah berkali-kali menekan tuts-tuts piano di depanku. Sekarang rasanya sangat sulit untuk menghafal not-not dari sebuah lagu dengan keadaan otakku yang semakin hari makin menjadi tidak berfungsi.
“aigoo.. jagi~ tanganku pegal” ucapku sambil mengibas-ngibaskan tanganku dan sedikit memutar-mutar leherku.
“mau aku pijit ?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab, taemin sudah membalikkan badanku membelakanginya dan memijit-mijit pundakku pelan.
“hey kau tau ? sepertinya kau cocok untuk jadi seorang tukang pijit” candaku sambil tertawa kecil.
“ya. Tapi aku akan menjadi tukang pijit hanya untukmu jagi~” ucapnya pelan tepat di telingaku lalu memelukku dari belakang.
“gomawo” kataku masih membelakanginya. Taemin menyingkirkan rambut ikal panjangku yang menutupi punggungku lalu menciumnya pelan. Tapi tiba-tiba saja aku teringat akan perjodohanku dengan eunhyuk.
“aku harus memberitahunya sekarang juga” batinku. Tapi belum berkata apa-apa aku merasa mataku mulai mendung.
“taemin-ah !” ucapku pelan membalikkan badanku ke arahnya tapi tidak berani untuk menatap matanya.
“waegeudae’ ?” sekarang aku merasa air mataku mulai mengalir deras melewati rongga mataku. Taemin terlihat bingung dengan perubahan sikap yang terjadi begitu mendadak dari diriku.
“jagi~ kau kenapa ? kalau kau punya masalah, kau bisa menceritakan semuanya padaku” ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Air mataku semakin mengalir deras.
“mianhe” bisikku di sela-sela tangisku.
“bwaeyo ?”
“ap. . .appa. . .” aku menatap matanya sekilas.
“appa menjodohkanku dengan eunhyuk” tangisku kembali pecah dan tak dapat aku kendalikan. Wajahnya terlihat menegang dan aku dapat melihat air matanya mulai membendung. Aku kira dia akan marah dan keluar meninggalkanku tapi perkiraanku salah. Taemin langsung memelukku erat, sangat erat sehingga dapat aku rasakan nafasnya sangat tidak beraturan.
“dan kau menerimanya ?” tanyanya masih memelukku.
“shireo ! aku tidak mau ! aku hanya mencintaimu dan aku bersedia memberikan segalanya untukmu !”
“nde’ ?” taemin melepas pelukannya. Wajahnya basah.
“bawa aku pergi dari rumah ini !” matanya terlihat membesar lalu dia menggeleng cepat.
“tidak. Cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah jagi~”
“lalu APA ?!” dia menunduk dan tidak menjawab.
“kita harus memecahkan masalah ini bersama. Gwenchana.. Aku akan selalu ada di sampingmu. Saranghaeyo” ucapnya lalu mencium bibirku dalam. Ciumannya kali ini sangat berbeda dengan ciumannya yang pertama dia berikan untukku beberapa waktu lalu. Kali ini ciumannya terasa lebih dalam dan kuat. Dia melumat bibir bawahku. Aku membalas ciumannya dan melumat bibir atasnya. Lalu lidahnya mulai bermain di dalam mulutku. Aku menggigit lidahnya pelan. Tapi lagi-lagi, aku merasakan isi perutku kembali ingin keluar. Aku berusaha sedikit menahannya dan melepaskan ciuman taemin.
“jakkaman !” ucapku mengatupkan gigiku dan hanya menggerakkan bibirku. Aku berdiri dan berjalan pelan menuju kamar mandi sambil menahan agar aku tidak memuntahkan isi perutku di depan taemin. Dia tetap tidak boleh tahu tentang penyakitku ini.
“eodiyo ?” tanyanya tapi aku mengabaikannya dan tetap berjalan pelan menuju kamar mandi.

TAEMIN’S POV
Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah ingin membunuh manusia bernama eunhyuk itu. Memang bukan dia yang salah, tapi kenapa harus dengan eunhyuk ? pangeran kecil taerii. Jujur saja aku sangat tidak setuju dengan perjodohan yang di buat antara orangtua taerii & orangtua eunhyuk. Tapi bisa apa aku ? ya tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin bisa membantah kemauan orangtua taerii yang dikenal sangat keras terutama appanya. Yang hanya bisa aku lakukan sekarang mungkin hanya menenangkannya.
Ketika aku sedang memikirkan semuanya, taerii datang dari kamar mandi dengan wajah basah seperti sehabis mencuci mukanya. Lalu dia duduk kembali di sebelahku.
“jagi~ gwenchana ?” tanyaku.
“nde’ hanya sedikit pusing. Aku ingin istirahat. Tapi bisakah kau menemaniku dulu disini ?”
“yap tentu saja. Kkaja ! aku akan mengantarmu ke kamar”
Aku mengantar taerii ke kamarnya di lantai 2. Seingatku ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamarnya. Taerii langsung mengajakku duduk di sofa sebelah jendela dalam kamarnya.
“jagi~ apa kau sudah punya rencana untuk menyelamatkanku dari perjodohan ini ?” tanyanya sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.
“belum. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mian” ucapku menggenggam tangannya.
“apa sebaiknya kau membawaku pergi saja ?” ujarnya lalu membaringkan diri dan meletakkan kepalanya di atas pahaku.
“hmm maksudmu ?” tanyaku tidak mengerti.
“kita kawin lari saja jagi~” ucapnya sambil menatap mataku dalam.
“tidak, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Kalau kita melakukan hal itu, sama saja kita membawa diri kita ke dalam masalah yang lebih jauh lagi jagi~” kataku sambil mengelus ujung kepalanya lembut.
“jadi kita harus bagaimana ?” tanyanya. tangannya menarik kaosku pelan.
“sudah lebih baik kau tidur dulu. Biar aku yang memikirkannya”
“bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku ?”
“lagu apa ?”
“on the night like this milik mocca”
“tapi kan ini bukan malam hari”
“lalu kenapa ? mereka membuat lagu itu bukan hanya untuk dinyanyikan pada malam hari kan ?”
“oke baiklah..”
On the night like this
There’s so many things I wanna tell you
On the night like this
There’s so many things I wanna show you
Cause when you’re around
I fell save and warm
Cause when you’re around
I can fall in love everyday..
And the kiss like this
There a thousand good reasons
I want to the stay…..

Beberapa menit kemudian taerii sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Aku menggotongnya dan memindahkannya ke atas kasurnya. Lalu aku berbaring di sebelahnya dan menghadap ke arahnya.
“taeri-ah.. aku ingin kita selalu seperti ini. Jika aku dapat menghentikan waktu, aku akan menghentikannya sekarang juga. Jeongmal saranghaeyo~” bisikku tepat di telinganya. Aku memeluknya lembut lalu memejamkan mataku berharap waktu benar-benar berhenti saat ini.


>>>>TBC<<<<

don't forget to comment this ff !!
^^

Senin, 31 Januari 2011

I'M JUST NOTHING [part 1]

“yaa lee donghae !! kau melamun begitu memangnya tugas papermu sudah selesai hah ?” ucap eunhyuk memukul kepala donghae pelan sambil duduk di depan laptopnya. Mereka sedang duduk di kafe seberang kampus sambil makan siang.

“haiss.. aku tidak akan bengong begini kalau tugasku belum selesai hyuk. Aku kan sudah mengajakmu mengerjakannya bersamaku kemarin sore tapi kau tidak mau. Yasudah” jawab donghae sambil meletakkan dagunya di telapak tangannya. Kedua kakinya berayun-ayun kedepan dan belakang. Matanya asik melihat ke arah seberang jalan.  Pada satu waktu senyumnya mengembang tapi kemudian menghilang dan begitu seterusnya.

“hey kau tahu ? senyum-senyum sendiri begitu seperti orang gila. Mana ada perempuan yang mau mendekatimu ? kau sudah bosan menjomblo kan ?” ucap eunhyuk. Tapi donghae tetap tidak menghiraukan perkataan sahabatnya itu dan matanya tetap melihat ke arah seberang jalan.

“yaa donghae-ah !!! kau sedang melihat apa sih ??!!” lagi-lagi eunhyuk memukul kepalanya tapi kali ini lebih keras.

“aooww kau ini !! tuh lihat kesana !! aku sedang memperhatikan anak kecil itu !!” jawabnya sewot sambil mengusap-usap kepalanya yang tadi dipukul oleh eunhyuk. Donghae menunjuk anak kecil perempuan yang ada di seberang jalan.

“aahh kyeopta !! kawai desune~ !!”

“tuh kan benar dugaanku. Kalau sedah melihat anak kecil begitu kau juga pasti akan terlena hyuk”

“iya pantas saja dari tadi kau anteng melihat kesana. Kira-kira umurnya berapa ya ? dan perempuan itu pasti ibunya !! pantas saja anaknya cantik begitu, ibunya tidak kalah cantiknya kan hae ?”

“ah kau ini hyuk !! ehmm sekitar 3 atau 4 tahun sepertinya. Hey papermu sudah selesai belum ? kenapa jadi ikut-ikut aku bengong begini ?”

“ya ya ya ya sudah !! tunggu sebentar aku matikan laptopku dulu” lalu mereka keluar dari kafe menuju kampus di seberang jalan.

“hey hey lihat sedang apa anak kecil itu ?” eunhyuk menyenggol bahu donghae dan matanya tetap terpaku pada anak kecil yang mulai melangkah ke tengah jalan raya. Anak kecil itu tidak lagi bersama ibunya.

“oh oh oh tidak ! bahaya hyuk. Aku harus membawanya ke ibunya” donghae langsung melangkah ke jalan raya tanpa melihat kanan kiri.

“YA DONGHAE-AH !!! JAKKAMAN !!!” teriakan suara eunhyuk langsung teredam oleh suara klakson mobil truck yang saat itu sedang melintas cepat di jalan raya. Dalam seketika eunhyuk telah melihat sahabatnya tergeletak di tengah jalan dengan darah mengalir di seluruh tubuhnya. Dia langsung berlari menghampiri sosok donghae yang tergeletak tak berdaya. Eunhyuk mendekatkan kepalanya di atas dada donghae tapi dia tidak menemukan tanda-tanda pergerakan di dalam sana. Lalu dia memegang leher donghae untuk mengecek urat nadinya namun hasilnya nihil. Kini wajah dan tangan eunhyuk penuh dengan darah, darah donghae. Pandangan matanya yang dipenuhi air mata kini terlihat kabur.

“hae !! donghae-ah !!! AKU MOHON JANGAN PERGIIIII !!!!”

=======

Aku duduk di bangku teras rumahku sambil mengayun-ayunkan kedua kakiku. Anjing kesayanganku, Bada sedang asik tidur di depanku. Kedua orang tuaku sibuk keluar masuk rumah sambil membawa semua barang-barang yang akhirnya mereka letakkan di atas mobil truck.

“bagaimana ? sudah tidak ada yang ketinggalan kan ?” ucap appaku kepada oemmaku di sampingku. Mata oemmaku terlihat sembab karena selalu menangis 4 hari ini.

“ya. Tapi entah kenapa aku masih sangat berat meninggalkan rumah ini. Hatiku masih merasakan keberadaan anak kita satu-satunya bahwa dia masih berada disini” lagi-lagi oemma menangis.

“oemma mianhe. Aku sudah tidak bisa memelukmu lagi sekarang” ucapku. Aku yakin mereka berdua tidak akan mendengar omonganku barusan.

“tidak sayang. Donghae sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Biarkan kita ikhlaskan dia pergi agar dia tenang disana” ucap appa sambil memeluk oemma. Lalu appa menghampiri bada yang masih tertidur di depanku. Appa menggendongnya dan berjalan menuju mobil kami. Oh bukan. Sekarang itu hanya mobil milik appa, oemma dan mungkin bada. Tidak dengan aku.

Tapi entah mengapa tiba-tiba bada terbangun dan menggonggong keras. Matanya melihat ke arahku yang masih duduk di teras. Aku tersenyum dan melambai tangan ke arahnya. Bada terlepas dari gendongan appa dan berlari ke arahku. Aku tersenyum dan mengelus kepalanya lembut. Appa dan oemma terlihat bingung dengan kelakuan bada.

“bada !! ayo sudah waktunya kita pergi” appa menghampirinya dan kembali menggendongnya. Kini tatapan appa melihat ke arahku. Aku yakin appa hanya melihat udara kosong di tempatku duduk. Aku hanya tersenyum melihatnya.

“kau lihat kan bada ? tidak ada apa-apa disini” appa kembali berbalik dan berjalan ke arah oemma yang sudah menunggu di samping mobil.

“oemma, appa, bada…. Jaa ne~ !!!”

======

“anyoung ! namaku kim eun ah. Kau siapa ?” sapaku pada seorang perempuan di sebelahku. Aku baru saja masuk menjadi mahasiswa baru di Phaichai University, Daejoon Korea Selatan jurusan Sastra Jepang.

“anyoung ! namaku Park Ririn. Kau bukan penduduk asli korea ya ?” tanyanya.

“ne’. ayahku berasal dari korea sedangkan ibuku dari Indonesia. Aku baru 3 tahun tinggal disini. Mohon bantuannya” ucapku sambil membungkukkan badanku.

“ne~ kita berteman ya. Oh ya dimana rumahmu ?”

“rumahku berada di incheon. Sekarang aku tinggal di sebuah kosan di belakang kampus. Kau tinggal dimana ?”

“aku berasal dari mokpo. Aku juga tinggal di sebuah kosan disini. Tapi kosanku berada agak jauh dari kampus”

“aaa sodesuka ?! hmm lain kali kau main ya ke tempatku” ucapku senang.

“yap tenang saja. Hahaha.. ah eunah-ssi mianhe aku harus cepat-cepat kembali ke kosan”

“ne~ gwenchana. Aku juga ingin kembali ke kosan. Perasaanku tidak enak. Jalgayo~”

“jalga~~”

~~~~~~~

Sampai di kamar kosanku, aku langsung disambut oleh lagu Lucifer milik SHINee yang keluar dari speaker hpku. Dilayarnya tertulis nama tanteku yang berasal dari Indonesia.

“yoboseyo~ ?” ucapku lewat telepon pada orang diseberang sana.

“ne~ yoboseyo rima !!” jawabnya memanggil nama panggilanku di Indonesia. Suaranya terdengar bergetar. Tiba-tiba saja jantungku berdetak sangat cepat dan terpikirkan satu kata yang mungkin akan dikatakan oleh tanteku di otakku.

“ri…rima.. bude meninggal” tanteku mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang ada dipikiranku. Aku sangat shock dan tidak tahu apa yang harus aku katakan.

“kau telpon tia saja. Katanya dia tidak berhenti menangis sejak mendengar kabar ini” tia adalah anak dari budeku satu-satunya. Dia satu tahun lebih tua dariku. Aku sudah kenal dengannya semenjak umurku 4 tahun. Bahkan dia sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri.

“nde~ akan aku telpon sekarang” sambungan telpon terputus. Tanpa pikir panjang aku langsung mencari kontak tia di hpku. Beberapa detik kemudian tia menjawab telponku.

“maaaa~~ !! ibuu tiaa udah gg adaaa~~ !!! ibu tiaaa meninggaaaall~~ !!!” tia terisak dari ujung telpon. Aku hanya bisa menjawabnya dengan isakan. Tangisku makin meledak saat memikirkan keadaan tia disana.

“ti sabar yaa.. ma..maaf ma gg bisa ngapa-ngapain” ucapku terbata-bata. Aku langsung memutus sambungan telpon karena sudah tidak kuat untuk menahan tangisku lagi. Aku langsung keluar kamar dan berlari ke atap yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian di kosanku. Disini aku bisa menangis sepuas-puasnya tanpa ada yang bisa mendengarku.

======

Lagi-lagi aku melihat sosok perempuan itu dari jendela kamarku. Biasanya aku melihatnya sedang  menjemur pakaian atau sedang bercanda dengan teman-temannya, tapi kali ini aku melihatnya sedang menangis. Oh tidak kenapa aku selalu ingin memeluk perempuan yang sedang menangis ?? aku mencoba keluar dari kamarku dengan cara menembus tembok dan menghampirinya. Aku mencoba melihat wajahnya dari dekat yang sedang tertunduk karena menangis.

“siapa kau ??!! sedang apa kau disini ??!!” tiba-tiba dia menoleh ke arahku dan berbicara dengan suara yang cukup keras namun agak sedikit bergetar.

“kau.. kau bisa melihatku ??” ucapku tak kalah kaget dibanding perempuan itu.

“ya tentu saja aku bisa melihatmu !! kau pikir kau apa hah ??!! siapa kau ??!! kenapa kau bisa ada disini ??!!”

“calm down ! calm down ! don’t get me wrong !. kau lihat ? rumah-rumah di komplek ini saling menempel satu sama lain. Dan tepat dibelakang kosanmu ini lah aku tinggal. Dan kau lihat jendela ini ? kamarku berada tepat dibalik jendela ini” jelasku sambil menunjuk kesana-sini agar perempuan ini bisa mengerti. Wajah tegangnya sudah agak sedikit menghilang.

 “choneun lee donghae imnida~ nuguseyo ?” sambungku memperkenalkan diri dengan bahasa yang formal.

“choneun kim eun ah imnida~. Sepertinya kau harus kembali ke kamarmu. Aku takut orang-orang berpikiran macam-macam karena melihat ada seorang namja di kosan yeoja”

“aniyo~ ! aku datang kesini karena melihatmu menangis. Padahal biasanya aku selalu melihatmu tersenyum atau sedang bercanda dengan teman-temanmu” tatapan matanya terlihat menyelidik dan menatapku tajam.

“ Ya, sudah sejak kemarin-kemarin aku memperhatikanmu” sambungku lagi sambil mencoba tersenyum.

“mianhe aku harus turun” dia berjalan cepat melewatiku menuju tangga untuk turun kebawah.

“aaa’ jakkaman !! ehmm kau benar-benar bisa melihatku ??” tanyaku ragu.

“kau aneh !” jawabnya ketus. Dia kembali melangkah turun.

“aaa’ jakkaman !! bisakah kau menemuiku disini pukul 8 malam nanti ??” dia tidak menjawab. Dia hanya melihat ke arahku. Aku suka dengan tatapan matanya yang tajam melihat ke arahku. Aku melongok ke bawah ke arahnya.

“aku akan tetap menunggumu !!” bisikku padanya yang sudah berada di bawah. Walaupun aku sudah sering memperhatikannya, tapi ini pertama kalinya aku menghampirinya.

“tapi kenapa dia bisa melihatku ya ??”

=====

Aku membanting pintu kamarku keras.

“haisst siapa namja aneh itu ? mengganggu saja. Kalau begini mana bisa aku menangis lepas. Dia bilang aku bisa melihatnya ?? ya tentu saja lah !! memang dia kira dia hantu apa ??!!” aku melampiaskan marahku pada boneka babi besarku.

“tapi kalau aku boleh jujur.. sebenarnya namja bernama lee donghae itu lumayan manis ya ? hihihi”

~~~~~

Pukul 8 malam ! aku teringat oleh perkataan donghae tadi siang. Aku penasaran dengan sosoknya yang agak misterius. Karena setelah dipikir-pikir agak susah juga dia keluar dari jendela kamarnya itu. Lagipula aku selalu melihat jendelanya tertutup, bahkan aku tidak pernah melihat ada cahaya di dalamnya. Dan satu lagi, saat dia berada di sebelahku tadi siang aku mencium wangi melati. Bukan wangi melati yang menyengat tetapi wangi yang sangat harum. Apa mungkin seorang namja seperti dia mengenakan parfum berbau melati.


>>>TBC<<<

Sabtu, 08 Januari 2011

I'M JUST NOTHING [prolog]

Kini aku berdiri di barisan paling belakang. Didepanku terdapat kerumunan orang berbaju hitam yang sedang meratapi kepergian seorang anak laki-laki yang mungkin sepertinya terlihat sangat berharga bagi mereka. Bahkan jasad yang terbungkus kain putih tersebut sudah tak dapat terlihat karena sudah terurug tanah makam. Hanya aku yang terlihat memakai pakaian putih disini. Perlahan, satu per satu orang mulai bepergian. Sampai pada akhirnya hanya tersisa seorang ibu cantik yang sedang menangis sesegukan sambil memeluk nisan dan seorang laki-laki gagah separuh baya memeluk ibu tersebut di sampingnya.

Sebenarnya aku paling tidak tahan melihat seorang wanita menangis seperti itu. Ingin sekali aku memeluknya tapi itu tidak mungkin. Aku mendekatinya dan duduk di depan mereka di samping makam. Kuraba batu nisan yang tertancap di tanah. Ya, aku tahu jelas siapa yang terurug di bawah tanah makam ini. Tak jauh dari makam aku melihat seorang laki-laki tampan yang sangat aku kenali berdiri di samping pohon. Dia sahabat terbaikku, eunhyuk. Matanya terlihat sangat bengkak. Bahkan sekarangpun butir-butir air mata masih terlihat jelas jatuh di pipinya. Dan kemarin adalah hari terakhir aku tertawa bersamanya....

~~PROLOG END~~

>>>TBC<<<

ff SHINee part 13

MUMU’S POV

Aku, aichan, taerii dan jiyong, namja chingunya aichan sedang bercanda-canda tentang bagaiman masa depan riyya bersama onew oppa. Ini pertama kalinya aichan mengenalkan jiyong pada kami. Saat kami masih asik 
bercanda, taemin datang dengan jas dan jeans hitamnya kearah kami.

“anyoung !” sapanya.

“anyoung jagi~ ternyata kau tidak kalah tampan dari minho” ucap taerii lalu taemin mencium kedua pipinya.

“oh minho sudah datang ? dimana dia ?” tanyaku lalu menatap aichan yang tampak tidak peduli sama sekali dengan perkataanku.

“dia sedang bersama oemmaku di atas. Biasa teman lama. Hahaha” ucap taerii dengan wajah sumringah. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang sakit serius.

“oh ya mumu-ssi. Tadi ada yang ingin bertemu denganmu. Dia menunggumu diluar” ujar taemin padaku.

“mwo ? nuguya ?” taemin hanya menggeleng menjawab pertanyaanku. Lalu aku menuju keluar rumah taerii yang terlihat sangat ramai, lalu mulai mencari-cari orang yang dimaksud taemin.

“aissshh pabonya aku ini ! bagaimana aku bisa tahu siapa yang sedang mencariku kalau aku saja tidak tahu sama sekali siapa yang mencariku” ucapku menepuk jidatku keras.

“memangnya kau sudah lupa denganku ?” lalu seorang namja berbicara dari belakangku. Suaranya yang aku kenal namun sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.

“jonghyun oppa ?! OPPA !!!!” ucapku kaget. Dia merentangkan tangannya lalu aku memeluknya erat.

“mian aku tidak mengabarimu sebelumnya” ucapnya mengelus rambutku lembut.

“bogoshipoyo oppa !” ucapku menangis di dadanya.

“aku juga merindukanmu mumu. Sangat merindukanmu” ucapnya memegang kedua pipiku lalu mencium bibirku dalam dan lembut.

“kapan oppa tiba ? kenapa tidak menghubungiku terlebih dulu ?” ucapku melepas ciumannya.

“aku baru saja tiba tadi malam. Keadaan appa sudah sangat sehat jadi aku bisa kembali lagi kesini”

“tapi oppa harus janji. jangan pergi dari sisiku lagi ya !” ucapku merengut.

“yap aku janji ! apa kau mau bukti ?” tanya jonghyun oppa lalu berlutut di depanku.

“oppa kau ini sedang apa ? ayo berdiri !” ucapku merasa tidak enak dengannya.

“aku hanya ingin membuktikan kepadamu jika aku benar-benar menyayangimu dan tidak akan meninggalkanmu lagi” ujarnya lalu mengeluarkan kotak merah kecil dari kantong jasnya lalu membukanya.

“b..bwo ? apa ini oppa ?” tanyaku bingung melihat cincin emas putih di dalamnya.

“sekarang aku sedang melamarmu. Maukah kau menerimaku ?” aku membekap mulutku lalu memandang matanya. Wajahnya terlihat benar-benar serius.

“oppa jeongmalyo ?” tanyaku meyakinkannya.

“ne’ jeongmal ! maukah kau menjadi istriku kim mumu ?” air mataku mulai membendung lalu aku manarik tangannya untuk berdiri.

“dengan senang hati oppa !” ucapku. Lalu jonghyun oppa menarik tangan kiriku dan memakaikan cincin emas putih itu di jari manisku.

“setelah pulang dari sini, aku akan langsung menemui orangtuamu !” aku kembali memeluknya erat dan untuk kesekian kalinya, aku kembali menangis di dadanya.

“saranghaeyo !” ucapnya

“na do saranghaeyo oppa !”

AICHAN’S POV

Setelah acara resmi pertunangan riyya dan onew oppa selesai, aku menuju ke tempat makanan untuk mengambil beberapa kue yang ada disana bersama jiyong.

“hey kau sedang melihat apa ?” tanyaku pada jiyong yang sedang menatap serius ke depan.

“jagi~ kenapa sejak tadi namja itu selalu melihat ke arah kita ?” Tanya jiyong dengan pandangan menghadap beberapa meter didepan kami.

“bwo ?” aku mengikuti pandangan jiyong lalu menemukan minho yang sedang menatap kosong ke arahku.

“sudahlah. Mungkin dia . . .”

“dia minho ya ?” tanyanya memotong kalimatku.

“hmm ne’” ucapku pelan sambil menunduk. Aku kaget karena tiba-tiba jiyong berjalan ke arah minho berdiri.

“aigoo apa yang akan dia lakukan ?” tanyaku kalut dalam hati.

“anyoung ! kwon jiyong imnida~” sapa jiyong lalu menyalami tangan minho.

“choi minho imnida~ !” saut minho sambil tersenyum ke arah jiyong Lalu dia menatapku dengan tatapan dingin.

“maaf aku harus pergi kesana” ucap minho kepada jiyong lalu membungkukkan badannya.

“ne’ anyoung !” ucap jiyong membalas bungkukkan badannya.

“ternyata dia tidak seperti yang aku kira. Kenapa kau begitu membencinya jagiya~ ?” tanyanya sambil menatap 
mataku dalam. Aku hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan yang membuat hatiku berdegup kencang 
barusan.


TAERII’S POV

“wah bahagianya jadi riyya. Beruntung sekali dia bisa mendapatkan onew oppa yang begitu mencintainya !” kataku iri pada riyya yang terlihat menyalami para tamu yang datang dengan wajah sumringah yang di sampingnya terdapat onew oppa yang selalu menemaninya sejak tadi.

“memangnya kamu tidak senang sudah punya aku ?” ucap taemin cemberut.

“ani~ bahkan aku lebih beruntung karena memilikimu jagi~” jawabku sambil memegang pundaknya.

“wae ?”

“mollaseo ! hihihihi”

“kau ini !” ucap taemin mencubit pipiku.

“sayang ! oemma membawa kejutan untukmu !” oemma menghampiriku dengan di ikuti seorang namja di belakangnya. Hatiku jadi berdegup cepat walaupun aku tidak tahu saipa namja itu. Aku sama sekali tidak mengenalinya.

“kamu disini bersama taerii dan taemin dulu ya. Sayang oemma kesana dulu ya ! masih banyak tamu yang harus oemma sapa” oemmapun pergi meninggalkan kami bertiga dalam keadaan bingung. Aku terus menatap namja itu untuk berusaha mengenalinya.

“jagi~ siapa dia ?” bisik taemin pelan di teligaku.

“aku tidak tahu jagi~” jawabku tidak kalah pelan dari suaranya.

“anyoung hasimnika~ !!”  ucapnya lalu membungkukan badannya didepanku dan taemin. Lalu kami membalas bungkukannya.

“nuguseyo ?” tanyaku masih menatap wajah namja itu lekat.

“taerii-ah ! kau tidak tahu siapa aku ?” tanyanya sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahku.

“mollaseo” jawabku singkat.

“jeongmalyo ? aigoo ! kau ini benar-benar ya. Sejak dulu tidak pernah berubah” ucapnya menepuk-nepuk kepalaku pelan. Aku yakin kenal dengan orang ini tapi aku tidak tahu siapa dia.

“yaa aku lee hyukjae ! eunhyuk ! masa kau lupa padaku ?”

“eunhyuk ? eunhyuk siapa ?” tanyaku menggaruk-garuk kepalaku yang masih bingung.

“ini ! kau lihat ini !” ucapnya sambil menunjukkan bekas luka jahitan di jidatnya yang tertutup poninya.

“MIR !!!!” aku langsung melemparkan tubuhku ke pelukannya dan memeluknya erat.

“aaaa jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Namaku kan eunhyuk bukan mir !”

“hah memang namamu eunhyuk ? aku tidak pernah tahu kalau namamu eunhyuk !” ucapku tidak yakin.

“apa kau juga lupa ? hanya kau dan oemmaku yang memanggilku mir. Kau memanggilku mir karena kau hanya mengikuti oemmaku kan ? Aku juga tidak tahu dapat dari mana nama itu” jelas mir, eh maksudku eunhyuk.

“arra arra ! pantas saja aku seperti mengenalmu tapi aku tidak tahu kau siapa hahaha”

“ya sudah, yang penting kau sudah ingat kan ? oh ya, siapa dia ? kau belum mengenalkannya padaku” ujarnya 
sambil menatap taemin yang sejak tadi hanya diam melihat tingkah aneh kami berdua.

“dia lee taemin, namja chinguku. Jagi~ dia eunhyuk . . .”

“atau lee hyukjae. Kami sudah kenal sejak kami masih kecil” potongnya lalu membungkukkan badannya dan 
taemin membalas bungkukkannya.

“marga kalian sama-sama lee jadi kalian harus berteman dekat yaa ! ya kan pangeran ?” tanyaku pada eunhyuk yang hanya cengar-cengir melihatku.

“ya tuan putri !” jawabnya meraih tanganku lalu menciumnya lembut. Aku langsung melepasnya karena aku ingat bahwa taemin masih disini.

“pangeran ? tuan putri ?” Tanya taemin dengan wajah bingungnya.

“iya jadi waktu umur kami masih 5 tahun, aku sering bermain dengannya. Dia jadi pangeran dan aku tuan putrinya. Tapi tenang saja kau tidak usah khawatir, pangeranku sekarang kan kau jagi~” ucapku menjelaskan pada taemin. Eunhyuk hanya mengangguk-angguk setuju dengan penjelasanku.

“dongsaeng-ah ! kau dan eunhyuk di panggil oleh appa di kamar. Sebaiknya kalian cepat kesana karena sepertinya mereka ingin membicarakan hal penting” ucap onew oppa cepat. Riyya yang berdiri di belakang oppa sambil menggandeng tangan oppa hanya tersenyum ke arah kami.

“uhmm taemin ?”

“appa hanya menyuruhku untuk memanggilmu dan eunhyuk. Taemin-ah, mian” ujar onew oppa pada taemin.

“gwenchanayo hyung. Jagi~ sebaiknya kau cepat pergi !” ucapnya sambil memandang bergantian ke arahku lalu ke arah eunhyuk. Onew oppa dan riyya sudah pergi ke tempatnya semula.

“kkaja ! palli !” eunhyuk menarik tanganku pelan.

“taemin-ah ! aku tidak akan pergi lama” ucapku pada taemin. Taemin hanya tersenyum memandangku yang mulai menjauhi dirinya. Tapi kenapa perasaanku jadi begini ? seakan-akan aku tidak ingin pergi dari sisi taemin. Aku menoleh ke belakang tempat dimana tadi taemin berdiri, namun sosoknya sudah pergi menghilang entah kemana.

=====

Aku dan eunhyuk tiba di kamar appa. Di dalam terdapat orang tua eunhyuk dan orang tuaku juga.

“anyoung haseyo !” ucapku dan eunhyuk sambil membungkuk di hadapan orangtua kami. Aku duduk di kursi kosong sebelah oemma dan eunhyuk duduk di kursi kosong di sebelah oemmanya.

“waah taerii, sekarang kau sudah tumbuh menjadi yeoja yang cantik ya” ucap oemma eunhyuk.

“kamsahamnida~” ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku.

“ya sudah langsung saja ya, karena waktu yang sedikit dan appa masih punya tamu yang menunggu di luar. Eunhyuk… taerii… “ appa berhenti. Oemma memegang pundakku pelan lalu tersenyum miris kepadaku. Aku mulai merasakan atmosfer aneh melihat tingkah laku orangtuaku dan orangtua eunhyuk. Tiba-tiba saja, tanpa kuketahui sama sekali sebabnya, jantungku berdegup sangat cepat. Aku mengepalkan telapak tanganku yang mulai terasa mendingin.

“ne’.. ada apa appa ?” tanyaku lirih.

“minggu depan . . .” appa berhenti melanjutkan kalimatnya karena pandangan oemma kearah appa. Pandangan yang sama sekali tak dapat aku artikan.


>>>TBC<<<

ff SHINee part 12 *pindah dr fb*

ONEW’S POV

Sorenya aku kembali ke rumah. Oemma dan appa sudah tiba di Indonesia dan sekarang sedang menjaga taerii yang belum juga tersadar di rumah sakit. Aku turun dari mobilku sesampainya di depan rumah. Entah kenapa seperti ada suara yang menyuruhku untuk membuka kotak surat yang bertengger tenang di atas tembok pagar rumahku. Dengan sendirinya kakiku bergerak mendekati kotak surat itu dan memasukkan tanganku ke dalamnya.

“ah apa ini ?” tanyaku pada diri sendiri melihat sebuah surat beramplop biru muda yang kini ada di tanganku. Aku berdiri  menyender di mobilku dan membaca surat yang ternyata dari taemin itu.

To : nae sarang “taerii”
                chagi~ mianhe, jeongmal mianhe aku tidak menceritakan tentang keberangkatanku menuju korea hari ini. Aku ingin mengikuti kompetesi dance yang akan dilaksanakan besok lusa di seoul. Mungkin ini memang mendadak dan kau pasti akan marah padaku karena tidak bercerita padamu sebelumnya. Aku akan kembali setelah sekitar 3 bulan berada di sana. Maaf juga karena mungkin aku akan jarang menghubungimu selama disana karena handphoneku telah aku jual.
     
           Tapi aku mau kau menemuiku sore ini di bandara pukul setengah 4. Aku akan pergi dengan jonghyun hyung. Pesawatku akan landing pukul 4 sore jadi aku sangat memohon padamu untuk menemuiku nanti sore. Sekali lagi jeongmal mianheyo karena aku hanya berani memberitahumu lewat surat ini. Kau boleh marah padaku, tapi aku akan menunggumu sebelum aku benar-benar berangkat kesana. Jeongmal mianheyo, jeongmal saranghaeyo lee taerii.

“ah taemin benar-benar pergi ke korea ? berarti surat ini sudah ada di sini semenjak kemarin. syukurlah. Karena ini memudahkanku untuk menyembunyikan tentang keadaan taerii. Mian taemin-ssi. Tapi aku pasti memberikan surat ini pada namdongsaengku” ucapku lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

_SETAHUN KEMUDIAN_

Detik terus berganti menjadi menit.. menit berganti menjadi jam.. jam-jam pun terus bergerak sehingga berganti hari.. hari-hari terus berjalan sesuai porosnya sampai saatnya untuk berganti minggu, bulan, dan tahun. (jujur, author kurang sreg sama kalimat ini -.-)

TAERII’S POV

Mungkin hari ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh oppa dan riyya. Hari ini mereka resmi bertunangan !. aku ikut bahagia dengan hubungan mereka yang semakin hari semakin dekat. Oemma dan appa juga sudah merestui hubungan mereka. Begitu juga oemma dan appanya riyya. Mereka terlihat sangat bahagia mempersiapkan pertunangan ini.

Sayang sekali aku tidak bisa membantu mereka. Oemma dan onew oppa menyuruhku untuk tetap duduk di ruang tamu melihat orang-orang berlalu lalang yang sibuk mempersiapkan acara ini. Mereka menjadi sangat protektif padaku semenjak kami mendapat kabar bahwa aku mengidap kanker otak stadium 2 B. Aku selalu bolak-balik ke rumah sakit sebulan 2 kali agak menghambat pertumbuhan virus kanker di otakku. Sudah setahun juga aku menyembunyikan penyakit ini dari taemin. Bersyukurlah karena taemin juga tidak begitu menyadari perubahan pada diriku. Aku tidak ingin dirinya tahu bahwa aku mengidap penyakit mematikan ini. Aku tidak tega melihat diriku sendiri tersiksa karena mungkin saja dia akan meninggalkanku saat tahu keadaanku. Aku sudah sangat mencintainya lebih dari aku mencintai diriku. Bahkan aku mungkin akan lebih memilih tersiksa karena sakit kepalaku yang sangat berlebihan dibanding tersiksa karena di tinggal olehnya.

Handphoneku bergetar dan lagu first love milik utada hikaru berdendang keluar dari speakernya. Di layar tertera tulisan nae sarang yang berarti taemin. Nomornya sudah kembali aktif sejak 3 bulan lalu setelah dia menjual handphonenya untuk pergi ke korea setahun lalu. Tepat hari dimana aku di vonis penyakit itu.

“ne’ jagi ~ ! wae ?”

“apa acaranya sudah dimulai ? aku akan segera berangkat kesana bersama jonghyun hyung !” ucapnya dari ujung telepon.

“oh jonghyun oppa sudah pulang ? kapan oppa pulangnya ? ya acaranya sebentar lagi. Kira-kira 1 jam lagi”

“iya hyung baru saja tiba tadi malam. Keadaan appa disana sudah sangat membaik. Katanya hyung tidak ingin melewatkan pertunangan sahabat lamanya”

“apakah mumu sudah tahu tentang ini ? dia pasti akan sangat senang sekali !” kataku sangat senang.

“ehhmm setahuku belum ada yang tahu kecuali aku dan kau jagi~. oke kalau begitu aku mempersiapkan diri lagi setelah itu langsung menuju kesana !” ucapnya senang.

“yap aku tunggu ya ! daaaah !” kataku lalu menutup telepon.

“sayang ayo saatnya siap-siap. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Oemma bantu kamu memakai gaun yang kemarin oemma belikan untukmu ya” ucap oemma penuh perhatian lalu membantuku berdiri dari dudukku.

“sudah oemma tidak apa-apa. Aku bisa bangun sendiri” ucapku menolak tangan oemma yang membantuku untuk berdiri.

ONEW’S POV

“oemma !” ucapku membuka pintu kamar taerii dan masuk kedalamnya. Oemma yang sedang membantu taerii memakai gaun putih selututnya terlihat kaget menatap kedatanganku kesini yang tiba-tiba.

“oppa ! kau membuat oemma kaget ! memang ada apa sih ?” ucap taerii manja.

“oemma ! oemma bisa rasakan ini kan ?” kataku lalu menarik tangan oemma ke dada kiriku yang bergetar begitu cepat.

“huuaaahh dongsaeng-ah.. aku grogi nih !” ucapku tidak tenang lalu duduk di tempat tidur taerii.

“oppa tenang saja. Semua pasti akan berjalan lancar kok ! ya kan oemma ?” ujarnya memegang pundakku dengan tangan hangatnya.

“iya. Oemma tahu kok bagaimana perasaanmu. Coba kamu tarik nafas dalam-dalam lalu buang perlahan !” ucap oemma memegang kedua pipiku. Akupun menuruti perintah oemma.

“bagaimana ? sudah agak baikan ?” Tanya oemma.

“yaaaa lumayan laah” jawabku dengan gaya belagu andalanku.

“huuu dasar oppa jeleek ! bwee !” ledek taerii yang membuat oemma tertawa.

“ kalau aku jelek, kenapa riyya bisa cinta padaku ?” tanyaku berkacak pinggang.

“waaah aku tidak tahu deh kalau yang satu itu. Mungkin saja riyya matanya sudah minus 7 jadi tidak bisa melihat mana namja yang ganteng dan mana namja yang jelek”

“waaahh kamu yaa !! jeongmal. Kalau oppa jelek, kamu juga pasti jeleekkk !!!” ucapku gemes sambil mencubit kedua pipi taerii.

“berarti sebentar lagi, kita tidak bisa bercanda seperti ini lagi oppa. Aku pasti akan kesepian nanti” ucapnya sedih.

“kan ada oemma yang akan selalu menemanimu sayang” ucap oemma mengelus rambut taerii lembut. Aku pun memeluknya erat.

“oppa benar-benar menyayangimu taerii. Kamu juga jangan tinggalkan oppa ya…” ucapku gemetar menahan tangis.  

MINHO’S POV

Aku sudah tiba di depan rumah taerii yang dipenuhi oleh mobil-mobil mewah dan orang-orang yang kelihatannya sangat penting. Mungkin itu rekan-rekan kerja appa taerii dari korea. Aku merasa tidak enak untuk masuk kedalam walaupun aku sudah memakai jas hitam dan celana jeans hitam dengan kemeja warna biru muda. Lalu aku mencari nama taerii di kontak handphoneku lalu menelponnya.

“taerii-ah ! bisakah kau keluar sekarang ? aku sudah berada di depan rumahmu, tapi aku tidak enak masuk kedalam karena sepertinya kebanyakan dari meraka adalah orang-orang penting” ucapku cepat.

“oke aku keluar sekarang ya ! kau tunggu disitu ! oemma, aku akan menemui minho dibawah ya” ucap taerii terdengar seperti berbicara dengan oemmanya lalu mematikan teleponnya. Sudah lama aku tidak bertemu oemmanya. Padahal dulu aku cukup dekat dengan keluarganya. Tidak lama kemudian taerii berjalan ke arahku yang masih berada di depan rumahnya.

“ayo kita masuk !” ucapnya sambil memberikan tangannya padaku ramah. Aku tersenyum dan menerima tangannya. Dia terus menggandeng tanganku sampai kami berada di dalam rumahnya. Beberapa ibu-ibu yang kelihatannya teman oemmanya taerii memandangku sambil berbisik-bisik.

“kau tunggu disini dulu. Tidak lama lagi taemin dan jonghyun oppa akan tiba” ucapny ceria ketika kami berada di lantai 2 depan kamarnya. Lalu ia melangkah masuk ke kamarnya. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali melihatku lagi.

“minho-ssi ! kau terlihat sangat tampan dengan jas dan kemeja itu !” ujarnya lalu tersenyum padaku.

“kekeke~ gomawo taerii-ssi” gumamku tersenyum dalam hati. Aku melihat kesekelilingku dan berjalan menuju pintu keluar menuju balkon depan jendela kamar taerii. Waktu smp aku sering menemani oemma taerii kesini untuk merawat bunga-bunganya. Lalu aku melihat pot putih besar didepanku yang ditanami oleh mawar putih.

“ternyata mereka masih menyimpannya” bisikku sambil tersenyum dan memegang bunga mawar putih yang sedang mekar.

“kau masih ingat bunga itukan ? aku sangat menyukainya. Terima kasih ya telah memberiku bunga itu waktu itu” tiba-tiba aku mendengar suara seseorang bicara dibelakangku. Ya tepatnya orang itu adalah oemmanya taerii.

“oh ahjumma wo. Anyoung haseyo !” ucapku tersenyum senang lalu membungkuk di depannya.

“kenapa kau panggil aku dengan sebutan itu. Kau masih ingatkan dulu kau memanggilku apa ?”

“ah ne’.. oemma …” ujarku tanpa ragu lalu memeluknya erat.

“kau semakin tampan sayang ! pasti banyak sekali yeoja-yeoja yang mengejarmu ya ?” ledeknya memegang pipiku tapi aku hanya tertawa dan menggeleng sebagai jawabanku.

“sudah setahun aku tinggal disini, tapi kau tidak pernah menampakkan sama sekali batang hidungmu di depanku ! kau sudah lupa sama oemma ya ?” ucapnya terlihat kesal.

“mianhe oemma. Aku memang sudah tidak pernah main kesini lagi. Tapi waktu taerii dirumah sakit, aku menjenguknya kok. Mungkin waktu itu kebetulan oemma belum tiba dari korea jadi kita tidak bertemu” jelasku.

“andaikan saja kau menjadi menantuku berikutnya, aku pasti akan sangat senang” ucapnya menarikku duduk di kursi lalu mengelus rambutku lembut.

“tidak mungkin oemma. Aku tidak akan tega memisahkan taerii dan taemin demi aku”

“iya oemma juga tahu kalau taerii sangat mencintai taemin. Tapi appa tidak tahu sama sekali tentang hubungan mereka”

“appa tidak tahu tentang hubungan temin dan taerii oemma ? ohh menurutku cepat atau lambat appa pasti akan tahu kok. Oh iya, dimana taerii oemma ?”

“taerii sedang dibawah menemui teman-temannya. Kita kebawah saja yuk ! sebentar lagi acaranya sudah dimulai” ucap oemma taerii menarik tanganku lembut. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum senang berjalan dibelakangnya.

MUMU’S POV

Aku, aichan, taerii dan jiyong, namja chingunya aichan sedang bercanda-canda tentang bagaiman masa depan riyya bersama onew oppa. Ini pertama kalinya aichan mengenalkan jiyong pada kami. Saat kami masih asik bercanda, taemin datang dengan jas dan jeans hitamnya kearah kami.

“anyoung !” sapanya.

“anyoung jagi~ ternyata kau tidak kalah tampan dari minho” ucap taerii lalu taemin mencium kedua pipinya.

“oh minho sudah datang ? dimana dia ?” tanyaku lalu menatap aichan yang tampak tidak peduli sama sekali dengan perkataanku.

“dia sedang bersama oemmaku di atas. Biasa teman lama. Hahaha” ucap taerii dengan wajah sumringah. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang sakit serius.

“oh ya mumu-ssi. Tadi ada yang ingin bertemu denganmu. Dia menunggumu diluar” ujar taemin padaku.


“mwo ? nuguya ?” taemin hanya menggeleng menjawab pertanyaanku. 





>>>TBC<<<